Rabu, 05 November 2014

Contoh RPP Bahasa Jawa Kelas VIII



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KOMPETENSI DASAR MEMBACA DAN MENULIS BERITA KELAS VIII SEMESTER SATU



Disusun Oleh:
Intan Nukhi Adhiya
2601412088







JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP 1)
Satuan Pendidikan                      :    SMP
Mata Pelajaran                            :    Bahasa Jawa
Kelas/Semester                            :    VIII/Semester Dua
Materi Pokok                              :    Teks Berita
Alokasi Waktu                            :    2 pertemuan ( 4 X 40 menit)

A.      Kompetensi Inti
1.      Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2.      Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3.      Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
4.      Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B.       Kompetnsi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
No
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
1
1.1  Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Jawa sebagai bahasa Ibu yang mendukung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan kesatuan bangsa

1.2 Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Jawa dengan memanfaatkannya sebagai sarana komunikasi/bahasa pergaulan etnik1.3  Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa daerah sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis
1.1.1        Berdoa sebelum memulai dan sesudah kegiatan belajar bahasa daerah.
1.1.2        Menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi dengan tata krama/santun.



1.2.1        Menggunakan bahasa daerah sebagai sarana memahami informasi tulis.



1.3.1    Menggunakan bahasa daerah sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis  sesuai dengan tata krama/santun
2
2.1 Memiliki perilaku percaya diri dan tanggungjawab atas  karya budaya masyarakat daerah yang pebuh makna.



2.2.1  bertanggung jawabdalam membuat tanggapan pribadi terhadap  struktur teks  berita.
2.2.2  Santun dalam menyajikan tanggapan pribadi terhadap struktur teks  berita.
3
3.1  Memahami struktur teks wacana berita.
3.1.1 Membaca pemahaman berita aktual.
3.3.2  Menjawab pertanyaan dalam ragam krama.
3.3.3 Menuliskan pokok-pokok isi berita.

4.3 Menulis dan membacakan teks berita.
4.3.1  Membaca dalam hati contoh teks berita.
4.3.2 Meyusun kerangka teks berita.
4.3.3 Mengembangkan kerangka teks berita menjadi berita.
4.3.4 Menulis berita
4.3.5 Membacakan teks berita.

C.      Tujuan Pembelajaran
Sikap
Sikap Spiritual
1.      Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran.
2.      Dengan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun, peserta didik terbiasa menggunakan bahasa daerah sebagai sarana memahami informasi tulis.
3.      Dengan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun, terbiasa menggunakan bahasa daerah sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis  sesuai dengan tata krama/santun.

Sikap Sosial
1.        Peserta didikterlibat secara aktif dalam proses pembelajaran struktur berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun,memiliki sikap bertanggung jawabdalam membuat tanggapan pribadi terhadap teks wayang agar memiliki perilaku percaya diri dan tanggungjawab atas  karya budaya masyarakat daerah yang pebuh makna
2.        Dengan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran struktur berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun, peserta didik santundalam menyajikan tanggapan pribadi terhadap struktur teks  wayang.

Pengetahuan
1.        Melalui kegiatan tanya jawab Explicit Instruction,  peserta didik dapat menjelaskan struktur teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
2.        Melalui kegiatan tanya jawab Explicit Instruction, peserta didik dapat menentukan unsur kebahasaan teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
3.        Melalui kegiatan tanya jawabExplicit Instruction, peserta didik dapat menyimpulkan isi teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
4.        Melalui kegiatan tanya jawab Explicit Instruction, peserta didik dapat menjelaskan pesan moral teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” dengan benar.

Keterampilan
1.       Setelah belajar tentang isiteks, peserta didik dapat meyimpulkan isi berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” dalam bentuk tulisan dengan kaidah penulisan dalam bahasa Jawa yang baik dan benar.
2.       Setelah belajar tentang isiteks, peserta didik dapat meyimpulkan isi berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” dalam secara lisan denngan menggunakan bahasa yang santun.
3.       Setelahbelajar tentang pesan moral dalam teks, peserta didik dapat merelevansikan pesan moral teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”  dengan kehidupansehari-hari jujur.

D.      Materi Pelajaran*
1.      Teks berita
2.      Cara  menjawab pertanyaan tertulis tentang isi teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
3.      Kaidah ejaan dan penulisan dalam bahasa Jawa.
4.      Unsur kebahasaan dalam teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” (kata, kalimat dan ungkapan)
5.      Struktur teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
6.      Kesantunan berbahasa Jawa biasa menggunakan bahasa sesuaidengan tata krama/unggah - ungguh yang berlaku dalam bertanya jawab dan menyampaikan pendapat.
*   Materi terlampir

E.       Metode Pembelajaran
1.    Pendekatan     : Saintifik/ Kontekstual
2.    Model             : Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis (Cooperative Integrated Reading and Composition)
3.    Sintaks:
a.        Membangun konteks
b.        Pemodelan teks
c.         Pemecahan masalah secara bersama
d.        Pemecahan masalah secara individual
4.    Model  :Model pembelajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis
5.    MetodeKBM  : Demonstrasi, tanya jawab, kelompok diskusi
6.    Teknik : Explicit Instruction.

F.        KKM : 7,3




 G. Sumber Belajar= Buku Teks Marsudi Basa Jawa



H.      Media Pembelajaran
1.      Alat :
Teks Berita, Lembar Penilaian, Soal-soal, Penilaian Kelompok.
2.      Bahan :
Teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”. (disediakan guru hasil modifikasi dari berbagai sumber)

I.         Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Pengorganisasian
Peserta didik
Alokasi waktu
Pendahuluan
·       Guru memberi salam dan mengabsen murid.
·       Guru melakukan apersepsi dengan mengulas materi pelajaran minggu yang lalu  melalui kegiatan bertanya jawab dan demonstrasi. Materi sebelumnya adalah tembang Gambuh. Guru menyanyikan tembang gambuh diikuti oleh para siswanya.
·       Menyampaikan tujuan pembelajaran meliputi aspek afektif (sikap spirutual dan sikap sosial), kognitif, dan psikomotor. Bahwa pembelajaran menulis berita dengan bahasa jawa penting karena bahasa jawa adalah identitas kita.


4 x 10º
Kegiatan inti
·       Mengamati:
-   Peserta didik membaca teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” yang dibagikan oleh guru untuk setiap murid.
-   Peserta didik menyimak pembacaan teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” dan keterangan dari guru yang disajikan.
·      Menanya:
-   Peserta didik dibuat kelompok oleh guru menjadi lima kelompok yang dibacakan sesuai absen.
- Guru memberi nama tiap kelompok. Yaitu kelompok 1-5.
- Setiap kelompok ditugasi untuk mencatat kata-kata sulit yang ada dalam teks dan diberi waktu selama 5 menit.
- Guru menanyai satu persatu kelompok diskusi mengenai kata-kata sulit apa yang mereka temukan, kemudian guru menjawab kata-kata sulit yang ditanyakan dalam teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
- Guru menanyakan pada masing-masing kelompok tentang isi dari berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
·      Mengumpulkan informasi:
-    Guru menugasi peserta didik untuk berdiskusi dengan kelompoknya mengenai ide pokok berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
-   Masing-masing kelompok harus membuat satu portofolio mengenai ide pokok dalam berita berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
-   Peserta didik berdiskusi tentang isi teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”






 Mengasosiasi:
-   Peserta didik menentukan ide pokok  teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun” menurut unsur 5w + 1h
-   Peserta didik menceritakan dengan bahasa masing-masing di buku masing-masing berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
- 
·       Mengomunikasikan:
-   Guru membagikan format nilai kepada setiap kelompok untuk menilai kelompok lain yang sedang membacakan hasil kerjanya
-  Peserta didik  menyajikan hasil diskusi tentang ide pokok teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”.
-   Peserta didik menyajikandengan bahasa daerah hasil apresasi dalam bentuk karya tulis sederhana

4 x 25º
Penutup
·       Guru meminta hasil kerja siswa dan menilainya.
·       Guru menyanyikan tembang sebagai akhir pelajaran.
·       Guru menanyakan soal-soal seperti apa dan pengajaran seperti apa yang diinginkan peserta didik.
·       Guru menutup pelajaran.

 4 x 5º


J.    Penilaian
1.      Sikap spiritual dan sosial
a.       Tehnik Penilaian       :    Pengamatan
b.      Bentuk Instrumen    :    Lembar Pengamatan
c.       Kisi – kisi                 :   



LEMBAR PENGAMATAN DIRI
No.
Sikap/Nilai
Indikator
Rubrik Penilaian
Butir Pertanyaan

1.1  Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa daerah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa daerah, serta untuk melestarikan dan mengembangkan budaya daerah untuk didayagunakan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan  kebudayaan  Nasional.
1.2  Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa daerah sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana memahami informasi lisan dan tulis.
1.3  Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa daerah sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis
1.1.3   Berdoa sebelum memulai dan sesudah kegiatan belajar bahasa daerah.
1.1.4    Terbiasa menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi dengan tata krama/santun.





1.2.2        Terbiasa menggunakan bahasa daerah sebagai sarana memahami informasi tulis.

1.3.1    Terbiasa menggunakan bahasa daerah sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis  sesuai dengan tata krama/santun












1 – 5




1 – 5






2.1 Memiliki perilaku percaya diri dan tanggungjawab atas  karya budaya masyarakat daerah yang pebuh makna.



2.2.1   bertanggung jawabdalam membuat tanggapan pribadi terhadap  struktur teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”
2.2.2   Santun dalam menyajikan tanggapan pribadi terhadap berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”



2.      Pengetahuan
a.       Tehnik Penilaian       : Tes tulis/tes lisan
b.      Bentuk Isntrumen    : Uraian non obyektif
c.       Kisi – kisi                 :   
           LEMBAR PENGETAHUAN
No
Indikator
Rubrik Penilaian
Butir Instrumen
1
Menjelaskan berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”


2
Menentukan unsur kebahasaan teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”dengan benar.


3
Menjelaskan makna kata sukar dalam teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”


4
Menjelaskan makna kata, kalimat dan ungkapan dalam teks narasi menyimpulkan berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”


5
Menjawab pertanyaan terkait isi teks berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”


6
menyimpulkan isi teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”


Tes lisan:
Menilai pemahaman peserta didik tentang berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”



7
Menjelaskan ide pokok teks  berita “Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun”




3.      Keterampilan
a.   Teknik Penilaian      : P1= evaluasi Produk dan P2= evaluasi Unjuk Kerja
b. Bentuk Instrumen       : Lembar Penilaian
c. Kisi-kisi:

No.
Indikator
Rubrik Penilaian
Butir Instrumen
1.
Peserta didik menyajikan hasil apresiasi dalam bentuk karya tulis sederhana


                                      :   
*)    Terlampir pada lembar penilaian.

         Mengetahui,                                                                   ...........,  ...............
         Kepala Sekolah                                                              Guru Bahasa Jawa


          ...................................                                                                  ..................................


A.    Lembar Pengamatan Diri
1.    Wenehana tanda centang (√) ing andharan(pernyataan) sing kokanggep paling pas karo kanyatan sing koklakoni.                    
2.    Katrangane kanggo mbiji pakulinane (kebiasaan):
5   =   ajeg
4   =   kerep
3   =   arang-arang
2   =   tau
1   =   blas
3.    Lembar pengamatan
No.
Aspek penilaian
Skala Penilaian
5
4
3
2
1
1
a.     Kulina ndonga sadurunge miwiti lan mungkasipasinaon Basa Jawa.





b.     Kulina migunakake Basa Jawa kanggo ngomong karo sapa bae (guru, kanca) nalika jam pelajaran.





c.     Kulina ngetrapake tatakrama nalika ing pasrawungan.





2
·      Jujur nalika mangsuli pitakon-pitakon ngenani wacan crita wayang manut panemune dhewe.





3
·       Tanggungjawab marang tugas pribadi





·       Tanggungjawab marang tugas kelompok.





4
·       Ngurmati panemune wong liya nalika diskusi.
·       Migunakake tembung kang pas (ora kasar lan kemproh) nalika ngomong lan takon ing diskusi.






                                                                  .............., ................2013



                                                                  .......................................






                                                                                Nama  :  .............................
                                                                    Kelas/No absen : ................
B.     Pengetahuan Kelompok

Pitaken wonten ngandhap menika mangga dipun wangsuli!

a.    Berita menapa ingkang sampun dipunwaos?
b.    Sinten mawon ingkang wonten ing waosan menika?
c.    Wonten pundhi kejadian menika?
d.   Wonten ing wayah menapa kejadian menika?
e.    Menapa ingkang nyebabaken kejadian menika?
f.     Kados pudi kejadian menika?
                                                                                                                   
Wangsulan:
Jawaban pertanyaan menika digabung didadosaken paragraf!
                                                                    Kelompok  :  .............................
                                                                    Nama-nama kelompok : ................




C.    Lembar Pengamatan portofolio hasil tulisan
Paringana tandha centhang () wonten ing andharan (pernyataan) ingkang dipunanggep paling pas kaliyan kanyatan ingkang panjenengan amati, tulisanipun kanca panjenengan.        
1.      Katranganipun kange mbiji:
5   =   pas sanget
4   =   pas
3   =   cukup pas
2   =   kurang pas
1   =   boten pas
2.      Lembar pengamatan
No.
Aspek penilaian
Kriteria
5
4
3
2
1
1
Tulisan

Panulisanipun bahasa jelas





Panulisanipun ngangge basa krama





Panulisanipun EYD sae





Ukaranipun runtut





Paragraf bener






Biji: jumlah biji X 4=...
Kelompok ingkang ngoreksi:
LEMBAR PENGAMATAN PRAKTIK OLEH GURU

No
Nama
Tulisan (hasil tulisan/karya tulis sederhana) pas karo kaidah pelafalan lan penulisan tata tulis ing basa Jawa.

Panulisane vokal
Panulisane konsonan
Pangang-go tembung
Ukarane runtut
Kohesi lan kohenrensi paragraf

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
A

























2
B

























3
C





















































































                                                                                .............., .................2013
                                                                                Pengamat, 



                                                                        ........................................


MATERI
Kewan Gunung Kelud Padha Mudhun
Pirang-pirang kewan alas dilapurake padha mudhun saka puncake Gunung Kelud sakwise ana aktivitas vulkanis sing terus mundhak, Selasa (11/2). Merga saka kuwi, statuse gunung kang mapan ana wilayah Kediri lan Blitar kuwi diundhakake saka ‘awas’ dadi ‘siaga’ (level III). Kewan sing padha ngungsi mau akeh-akehe rupa kidang lan ula.
Kewan-kewan mau mudhun nganti tekan pekarangane warga. Medhune kewan-kewan saka gunung kuwi pratandha menawa hawa ning kelud wis umub nyedhaki arep njeblug. Sakliyane mudhune kewan, tandha menawa gunung kidul arep njeblug yaiku kerepe lindhu ning sekitar gunung kidul wis ora umum.
Pelaksana tugas Kabag Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto mratelakake, warga ning lereng-lereng gunung kelud dijaluk cekat-ceket ngungsi ning panggonan sing wis disedhiyakake pemerintah kanggo jaga-jaga menawa ujug-ujug gunung kelud njeblug ora ana korban jiwa.
Edhi uga njaluk marang warga masyarakat supaya ora nyedhaki gunung kelud kurang saka radius 5 kilometer kaya sing wis diwenehi tanda dening aparat. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla sing wis niliki kahanane Gunung Kelud wanti-wanti marang para relawan PMI supaya cekat-ceket menehi pitulungan menawa ana kurban.

Senin, 27 Oktober 2014

Keterkaitan Antara Pengarang, Karya Sastra, dan Keadaan Masyarakat Ketika Karya Diciptakan



Dalam sistem kepengarangan sastra jawa periode roman picisan pengarang yang keseluruhan karyanya berupa roman picisan yaitu (Any Asmara, Suharsisi Wisnu, Naning Saputro, dll) salah satu motivasi yang paling menonjol dalam penulisan roman picisan adalah motivasi ekonomi. Honor kepenulisan pada waktu itu cukup besar. Yaitu dua kali gaji pokok perbulan. Motivasi lain dari kepenulisan yaitu untuk mencari popularitas.
Biasanya profesi utama yang dimiliki oleh pengarang yaitu pekerja pers dan guru. Walaupun karya-karya mereka termasuk karya sastra roman picisan, pesan-pesan yang terkandung dalam karya mereka tetap berupa pesan moral dan etika. Pada masa itu sebagian besar pengarang jawa menggunakan nama samaran. Alasan menggunakan nama samaran hanya bersifat komersial untuk kepentingan bisnis. Menariknya, nama-nama pengarang perempuan digunakan oleh para pengarang laki-laki. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian pembeli.
Lokasi penerbit yang menerbitkan roman picisan tersebar di berbagai kota di pulau Jawa, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bandung. Penerbit roman picisan yang paling banyak dan produktif berdomisili di Surakarta. Yaitu penerbit keluarga subarno, FA Nasional, Subur, Burung Wali, Kancil Manis, dll. Penerbit roman picisan terbanyak kedua yaitu dikota Surabaya antara lain penerbit Aryati, dan Marfi’ah. Yang selanjutnya adalah Yogyakarta, Semarang dan Bandung.
Pemasaran roman picisan diantaranya dengan cara dititipkan, dan dijajakan. Tema yang ditampilkan oleh pengarang lebih menonjolkan percintaan sehingga mengarah pada pasar pembaca remaja. Sehingga para remaja dapat larut dan bersatu dalam dunia imajinasi saat membaca.
Keadaan masyarakat saat itu sangat memprihatinkan. Keuangan negara carut marut dan harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Saat itulah saat-saat krisis moneter orde baru dan kolonialisme. Masyarakatnya miskin dan mereka butuh bahan untuk menghibur diri dengan harga murah. Dengan adanya novel-novel panglipur wuyung, masyarakat menjadi terhibur dan hiburan tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi para rakyat Indonesia.
Penulis memanfaatkan momentum ini untuk mengambil keuntungan. Pada masa itu para penulis banyak yang tidak memiliki pekerjaan lain selain menulis. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk menulis semenarik mungkin dan mereka berlomba untuk mengedarkan sebanyak-banyaknya. Itulah mengapa banyak unsure eskapisme melekat pada karya sastra jawa dahulu. Tidak lain supaya banyak peminat dan laku di pasaran.

Ditulis Oleh: Intan Nukhi Adhiya

Unsur Eskapisme dalam Sastra Jawa




Eskapisme pada novel berbahasa jawa yaitu unsur yang tidak pantas atau unsur yang tidak mendidik. Dalam Novel Sawtra Jawa dikenal dengan Roman Picisan atau Panglipur Wuyung. Roman picisan dapat disebut sebagai kisah yang murah mengenai kejahatan, dan cinta. Picisan dapat diartikan sebagai harga yang murah yaitu satu picis sama dengan 10 sen, dan satu sen adalah seper seratus rupiah. Sedangkan roman, banyak yang mengartikan sebagai “romance” atau kisah percintaan.

Istilah roman picisan mulai diedarkan oleh seorang wartawan kemudian tiga tahun kemudian menjadi populer digunakan di kalangan umum. Istilah ini juga disebut dalam novel Kyai Franco yang menyebut bahwa novel yang berharga murah disebut novel picisan atau novel ketipan. Tetapi pada kala itu roman picisan hanya dimaknai sebatas harga yang murah.
Istilah dalam novel berbahasa jawa selanjutnya adalah Panglipur Wuyung. Yang pertama digunakan oleh Sikoet. Dan kemudian diikuti oleh beberapa pakar yang juga mengarang novel berbahasa jawa. Novel tersebut menggunakan istilah Panglipur Wuyung diartikan sebagai penghibur hati karena pada masa itu adalah masa orde lama dimana bangsa indonesia mengalami carut-marut.
Pada novel Panglipur wuyung banyak menggunakan sampul yang mendebarkan dan menggunakan sosok wanita sebagai model penggambaran sampul depan agak mengandung unsur pornografi. Tujuan dari penggunaan sampul pornografi adalah untuk menarik minat baca para pembeli. Sebenrnya di dalamnya tidak terdapat unsur pornografi hanya penggunaan kata-kata erotis sebagai penggambaran masyarakat pada kala itu. Harganya cukup murah yaitu 2 rupiah sedangkan beras hanya sekitar 7,5 rupiah. Sama dengan buku-buku TTS pada masa kini.
Seni dibagi dalam empat kelompok yaitu seni elit, seni populer, seni massa dan seni rakyat. Sastra jawa klasik merupakan kelompok seni elit karena tidak semua orang dapat membacanya. Sastra populer mucul dari  para kaum terpelajar dan untuk menu hiburan bagi kaum terpelajar. Contoh dari karya sastra populer adalah serat riyanto. Seni massa dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat terutama masyarakat menengah kebawah. Sedangkat seni rakyat berkembang di masyarakat pedesaan yang ekonominya menengah kebawah.
Pada tahun 1966, merupakan titik  balik dari pertumbuhan sastra jawa. Komres 951 Sala dalam operasi Tertib Remaja (Opterma) II meneliti 217 buku roman picisan dan menyita 59 buah buku roman picisan. 21 diantara merupakan judul roman picisan sastra jawa, karena isi dan pencitraaannya sangat buruk dan dinilai merugikan kaum remaja. Kemunduran penerbitan roman picisan itu diantisipasi dengan munculnya majalah berbahasa jawa. Mulai diterbitkan tahun 1967. Masa berakhirnya roman picisan juga memunculkan kembali penerbitan roman populer. Dua alasan mengapa roman picisan hilang. Pertama perekonomian sudah membaik, dan kedua proses pengindonesiaan sudah mulai terbentuk.

Ditulis oleh: Intan Nukhi .A
(Harap mencantumkan sumber apabila mengutip)

Awal Perkembangan Prosa Jawa Modern

Dulu pada awal perkembangan sastra jawa, Prosa Jawa sangat luas beredar di kalangan keraton. Prosa yang beredar pada masa itu adalah prosa seperti cerkak atau kisah-kisah kerajaan yang ditulis berdasarkan guru lagu dan guru wilangan tembang. seperti asmarandana, pocung, mijil, pangkur, gambuh, dan lain-lain. Sebagai contoh yaitu Serat Wedhatama.

SERAT WEDHATAMA
(Pangkur)

Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karanan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap neng tanah Jawa,
Agama ageming aji.


Menahan diri dari nafsu angkara,
karena berkenan mendidik putra
disertai indahnya tembang,
dihias penuh variasi,
agar menjiwai tujuan ilmu luhur,
yang berlaku di tanah Jawa
agama sebagai “pakaian”nya perbuatan.


Tulisan diatas merupakan sastra jawa yang beredar pada masa itu. Hanya pujangga-pujangga keraton yang bisa membuatnya, dan hanya orang-orang yang pandai yang bisa memahaminya. Butuh intelektual yang tinggi untuk memahami isi cerita pada serat-serat pada masa itu.

Sastra jawa terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Serat-serat mulai ditinggalkan oleh para pujangga, karena ada satu penulis yang menulis sastra jawa menggunakan bahasa biasa. Novel tersebut berjudul Serat Rangsang Tuban yang ditulis pada tahun 1912. Setelah novel Prosa Jawa Modern pertama dibuat, seakan-akan menjadi titik awal munculnya sastra-sastra Jawa Modern. Sastra jawa modern berikutnya yang bersejarah diantaranya berjudul Katresnan, Serat Riyanta, Ngulandara.

Pada awal kemerdekaan tahun 1945-1998, sastra Jawa modern dijelek-jelekkan oleh kalangan elit dan kalangan terpelajar. Pada masa itu Prosa Jawa Modern dianggap hanya bacaan anak-anak yang tidak ada nilai estetikanya. Mereka menganggap bahwa yang pantas dianggap sastra hanya bacaan yang mempunyai guru lagu dan guru wilangan seperti serat-serat pada masa keraton.

Namun begitu, pada masa itu sastra Jawa modern sangat berkembang pesat di kalangan masyarakat. Harganya dijual murah dan sangat laris. Bentuknya seperti novel tetapi agak tipis. Banyak penulis bermunculan pada masa itu. Dahulu di Jawa belum ada novel berbahasa Indonesia karena Novel Bahasa Indonesia hanya terdapat di wilayah yang orang-orangnya bisa berbahasa melayu. Sedangkan dijawa jarang orang yang dapat berbahasa Indonesia.

Setelah masuk pada zaman orde baru, pemerintah mengumumkan aturan pengindonesiaan besar-besaran di seluruh indonesia. Majalah-majalah berbahasa Indonesia dibuat, Radio dan televisi semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian pemerintah membuat penerbit nasional yaitu penerbit balai pustaka. Penerbit balai pustaka menerbitkan buku-buku yang semuanya menggunakan Bahasa Indonesia.

Akhirnya Sastra jawa mulai merosot pada orde baru karena masyarakatnya mulai pandai berbahasa Indonesia dan melupakan Sastra jawa. Novel-novel yang betebaran adalah novel berbahasa Indonesia. Banyak penulis berbahasa jawa yang kemudian alih profesi menjadi penulis berbahasa Indonesia karena tuntutan ekonomi. 

Sampai sekarang, prosa jawa modern mungkin mulai meredup di kalangan masyarakat. Bahkan di toko-toko buku jarang ditemukan novel berbahasa jawa. Hanya di penerbit yang menerbitkan buku-buku berbahasa jawa yang menjual novel berbahasa jawa dan itu sangat jarang. Mahasiswa juga sulit mencari novel-novel berbahasa jawa.

Ditulis oleh: Intan Nukhi .A
(Harap mencantumkan nama apabila hendak mengutip)